Back to Others News
Catatan Andi Hakim Soal PSSI & Menpora
Others
Share:

Catatan Andi Hakim Soal PSSI & Menpora

Apa yang diharapkan Menpora Nahrawi dengan membentuk Tim Transisi 17 Kemenpora yang terdiri dari politisi, pejabat sipil, militer, dan penggiat sosial adalah apa yang dikenal dalam teori inovasi balik sebagai "accompagnateurs" atau para pendamping program. Satu istilah yang dipopulerkan pemenang pulitzer Tracy Kidder dalam bukunya, Ada gunung di balik gunung (Mountains Beyond Mountains) ketika menuliskan perjuangan Profesor Paul Farmers dan lembaga Partners in Health ketika menjadi penggerak masyarakat di Haiti. 

Paul seperti dikisahkan Tracy, adalah orang yang menulis dan mempelajari selain ia juga aktif memperbaiki hajat hidup masyarakat mulai dari inovasi pengentasan kemiskinan, rasisme, pertanian dan peternakan sampai penyediaan obat-obatan bagi kesehatan mereka. Lewat kebiasaan mencatatnya ini, Paul menemukan mengapa puluhan kali inovasi yang dilakukan pemerintah atau LSM untuk mengobati penyakit sosial ini selalu gagal. Persoalannya adalah karena mereka lupa bahwa mengobati (medication) penyakit seperti contohnya TBC, kolera selalu berjalan dengan permasalahan perawatan (treatment). 

Pemerintah, LSM, dan masyarakat umumnya menganggap semua selesai begitu penyakit diobati. Padahal, jarak antara diobati dengan sehat selalu ada prosedur perawatan yang biasanya jauh lebih panjang dan hal ini tidak dirancang dalam program atau memang sengaja dibuat agar proyek sosial tetap berjalan. Hal yang sama juga berlaku dengan penyakit-penyakit sosial lain seperti pemberantasan kemiskinan dan penyuluhan pertanian yang akhirnya menjadi salah satu penyebab dari buruknya kesehatan.

Paul kemudian membentuk Akompanier (para pendamping) yang berasal dari warga sekitar sasaran, tetapi mereka cukup mengerti faktor-faktor antropologis penduduk yang didampingi. Mereka dibayar meski tidak banyak dan bekerja sebagai penyuluh, pendorong, pemeriksa, evaluator serta pelapor untuk melihat sejauhmana program berjalan di masyarakat. 

Cara Nahrawi agak berbeda, ia menjalankan strategi pengobatan PSSI dengan terlebih dahulu menyiapkan that so called "road map sepakbola Indonesia". Di mana di sini PSSI diasumsikan sebagai pasien yang sakit dengan indikasi buruknya prestasi dan dualitas kepengurusan sehingga membutuhkan medikasi (pengobatan), dengan ia sebagai dokter, dan road map sebagai obatnya. Dia lupa bahwa PSSI sudah punya road map itu.‎

Persoalannya adalah mereka yang diharapkan sebagai para pendamping sebagian besar adalah mereka yang kurang paham antropologi sepakbola Indonesia. Ambil contoh Ridwan Kamil yang walikota Bandung, Felix Wanggai yang kemarin dikenal sebagai ahli otonomi daerah, Sukminto grup yang dikalangan TNI dikenal sebagai penyuplai bahan baju tentara dari Sritex tekstil. 

Sepertinya juga memang bukan pengetahuan mereka tentang sepakbola yang diharapkan tetapi lebih kepada penyedia jasa politis, keuangan dan popularitas. Menpora memiliki agenda lain dari kepentingan lain yang juga mungkin seperti ditulis Tracy ada gunung di balik gunung yang membuat persoalan sepakbola PSSI yang awalnya di level aman-aman saja menjadi lebih kisruh, ketika kepentingan lain menggunakan Kementerian sebagai perangkat intervensinya. 

Di satu sisi Menpora memang menjadi alat dari kekuatan yang ingin mengambil alih PSSI dan menguasai bisnis sepakbola Indonesia di sisi lain ia memainkan strategi nendang nyilih kaki untuk menggolkan programnya dengan mengangkat presidium transisi dari 19 orang sebagai tamengnya. Jadi, ini mirip gaya tendangan bebas Uruguay pura-pura lari mau nendang, tetapi pemain lain mengoper ke orang seberang.