Kembali ke Berita Lainnya
PSSI Undang Dua Komunitas Dalam FIFA Football For Hope Programme
Lainnya
Bagikan:

PSSI Undang Dua Komunitas Dalam FIFA Football For Hope Programme

FIFA kembali mempercayakan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mensukseskan program mereka yang bernama FIFA Football For Hope. PSSI terpilih dan ditunjuk langsung oleh FIFA untuk acara yang sudah menjadi agenda mereka ini pada hari ini, Kamis (11/2) pukul 14.00 WIB bertempat di Kantor Pusat PSSI, Senayan.

“FIFA berkomitmen untuk berkontribusi dalam mendukung kelangsungan kehidupan sosial dan pengembangan manusia yang dijalankan secara mandiri oleh organisasi berlandaskan kumpulan dari komunitas yang ada di negara anggotanya dengan memperhatikan perkembangan dari segi sepak bola sebagai olah raga yang sedang berkembang di Indonesia,” begitu bunyi kutipan surat dari FIFA yang diterima oleh PSSI.

Adapun dua komunitas sudah diundang secara langsung oleh FIFA melalui PSSI ke dalam program Football For Hope adalah komunitas Rumah Cemara dan Uni Papua Football Community. Nantinya mereka akan memaparkan kegiatan-kegiatan mereka selama ini dan yang akan datang kepada PSSI.

Mendengar akan diundang datang ke kantor PSSI, kedua komunitas itu menyambut positif.

“Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih untuk undangannya dari PSSI. Semoga ini menjadi awal dari hubungan konstrutif antara Rumah Cemara dan PSSI untuk tahun-tahun kedepannya,” tutur Aditia Taslim, Grant Manager Resource Mobilisation Unit dari Rumah Cemara.

“Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Rumah Cemara berdiri pada tanggal 1 Januari 2003 atas kebutuhan dari teman-teman di komunitas. Organisasi kami didirikan oleh lima orang mantan pecandu narkoba yang pada saat itu menginginkan sebuah tempat yang aman dan positif bagi pecandu lainnya agar dapat berhenti menggunakan narkoba. Maka pada saat itu, berdirilah pusat perawatan rehabilitasi narkoba berbasis komunitas,” sambungnya.

Aditia mengatakan bahwa mulai tahun 2006 Rumah Cemara mulai mengadakan kegiatan sepak bola. Dia pun mengatakan bahwa hanya dengan sepak bola, komunitasnya belajar arti dari satu kesatuan.

“Sejak tahun 2006, kami pun mulai secara rutin melakukan kegiatan sepak bola untuk menjaga kondisi kesehatan kami. Sehingga, lama kelamaan, kami mulai beranjak ke jenjang yang sedikit lebih serius. Kami mulai mengundang beberapa tim futsal lainnya untuk bermain melawan tim kami. Disitulah kami menemukan bahwa sepak bola dapat digunakan sebagai sebuah alat kampanye yang sangat efektif, dimana diatas lapangan, tidak terdapat stigma dan diskriminasi terhadap kami, dan kami dapat berdiskusi tentang narkoba dan HIV/AIDS di luar lapangan. Tim-tim yang bermain melawan tim kami seringkali bertanya asal-muasal kami, dan disinilah kami mampu secara informal memberikan edukasi tentang narkoba dan HIV/AIDS dengan cara yang jauh lebih efektif daripada kampanye konvensional yang selama ini dilakukan seperti seminar, talkshow, pelatihan, dan sebagainya,” cerita Aditia.

“Oleh karena itu, kami mulai merancang sebuah program sepak bola yang ditujukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang narkoba dan HIV/AIDS. Kami mulai dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini tidak pernah terjangkau. Melalui sepak bola kami telah berhasil memberikan edukasi kepada masyarakan dan mengajarkan mereka arti dari sebuah kesatuan. Di dalam sepak bola, kami tidak mengenal stigma dan diskriminasi.”

Sejak tahun 2010, Rumah Cemara juga telah ditunjuk sebagai National Organiser untuk Homeless World Cup, turnamen tahunan yang ditujukan untuk menghapus homelessness didunia ini. Namun oleh karena permasalahan dana, tim Indonesia baru dapat melakukan debutnya di turnamen Paris pada tahun 2011. Perjalanan tim Indonesia di Homeless World Cup dapat dibilang cukup menakjubkan, mereka tidak hanya dapat memberikan penampilan yang baik melawan negara-negara favorit lainnya, namun juga penilaian atas tim Indonesia yang selalu dinilai positif juga telah memberikan nilai tambahan.

Tahun 2013, Rumah Cemara telah menjadi partner resmi dari Street Football World Network dan juga menjadi penerima dana dari FIFA Football for Hope (FFH) Programme Support. Program FFH ini dilakukan setiap tahun dengan fokus yang berbeda-beda, dan saat ini, mereka sedang menjalankan program FFH dengan dana yang diberikan untuk tahun 2016 dan 2017 fokus pada pelatihan untuk pelatih komunitas di Jawa Barat (2016) dan Indonesia (2017).

Berbeda dengan Rumah Cemara, Uni Papua Football Community adalah Perkumpulan Sepakbola Uni Papua. Harry Widjaja, pimpinan dari komunitas ini menceritakan suka dukanya dalam menjalankan komunitasnya.

“Pertama saya ucapkan terima kasih atas undangan PSSI kepada kami, menjawab suka dukanya menjalankan ini, sebagai organiasi NGO di bidang sepakbola sosial, dimana masih baru untuk Indonesia, tentunya kami belum dikenal luas. Fasilitas untuk latihan sangat terbatas, dukungan sponsor minim, dan perhatian pemerintah belum menggembirakan, walaupun ada beberapa cabang yang dibina oleh kepala daerah atau pejabat daerah secara pribadi. Intinya kami harus mati-matian 'gerilya' dan mencoba segala upaya untuk menjalan visi misi Uni Papua,” papar Harry.

Saat ini Uni Papua memiliki 34 Komunitas / Cabang di seluruh Indonesia, kurang lebih 4.000 anggota. 2 cabang di luar negeri : finland dan philadelphia USA. Uni Papua telah menjadi gerakan sosial yang menggunakan sepakbola bagi orang Indonesia, dan sebagai organisasi yang berasal dari Indonesia.”

Kegiatan yang dilakukan komunitas yang satu ini diklaim oleh Harry cukup padat, selain dengan FIFA Football For Hope, mereka juga diundang untuk mengirimkan delegasinya untuk kegiatan EURO Cup 2016 di Lyon.

“Kegiatan tahun ini cukup padat, karena selain dengan FFH FIFA kami menjadi anggota dari Street Football World dimana kami diundang untuk mengirimkan delegasi ( 6 orang ) yang akan bergabung dalam kegiatan selama EURO CUP 2016 berlangsung di Lyon. Kami juga peserta tetap dari Pertemuan UNOSDP dibawah PBB,” tukasnya.

“Sekiranya PSSI dapat mendukung dan bekerjasama tentunya akan sangat berarti untuk kemajuan sepakbola sosial di tanah air,” harap Harry.