
Catatan: Sepak Bola Alat Pemersatu Bangsa, Bukan Sebaliknya
Menpora sepertinya tutup mata dan telinga dengan aksinya membekukan PSSI. Dia seakan tidak peduli dengan nasib olah raga sepak bola nasional pada umumnya. Melalui surat putusan Menpora Nomor 0137 Tahun 2015, tanggal 17 April 2015, dia menggunakan kekuasaannya untuk melakukan hal itu.
Dengan dimunculkannya surat itu, banyak pihak yang dirugikan. Termasuk anggota PSSI sendiri. Banyak juga yang merasa khawatir dan memilih opsi lain untuk menerima tawaran negara lain, demi bisa bermain sepak bola.
Papua, lewat Persipuranya sudah dibujuk beberapa negara tetangga dekat mereka untuk bergabung, selanjutnya, Aceh. Seperti diketahui, dua provinsi itu pernah menginginkan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, hanya sepak bola juga yang bisa menyatukan mereka. Sepak bola sudah menjadi alat untuk mempersatukan bangsa dan alat perjuangan bangsa.
Kalau sampai hal itu terjadi, apa mungkin Menpora mau bertanggung jawab?. Disintegrasi ini bukan hanya sebatas sepak bola saja, kemungkinan terbesarnya, mereka bisa saja benar-benar memisahkan diri. Jika hal itu sampai terjadi, maka berantakan sudah persatuan dan kesatuan sepak bola di Indonesia.
“Kalau Persipura tidak bisa bermain di tingkat Internasional seperti AFC, maka kemungkinan mereka bisa saja bergabung dengan negara lain. Itu sangat disayangkan, mengingat potensi sebesar Persipura harus hilang. Dan hal ini sudah disampaikan kepada saya oleh mereka melalui sms,” ungkap La Siya, salah satu anggota exco PSSI, Rabu (22/04) di kantor PSSI.
“Sepak bola bagi mereka sudah menjadi ‘agama’ kedua,” sambungnya.
Lain halnya dengan Aceh, melalui Sekretaris Asprov Aceh, Tengku Mahmud Khaidir, mereka sendiri sudah melakukan negosiasi dengan beberapa kompetisi negeri tetangga. Dia juga berharap Menpora bisa mencabut surat keputusannya.
“Kami sudah mengirimkan surat kepada AFC dan sudah melakukan komunikasi dengan beberapa negara tetangga. Peraturan daerah kami juga sudah mengizinkan bahwa budaya dan olahraga di Aceh boleh melakukan hubungan dengan pihak luar negri. Maka dari itu, kami lakukan hal ini daripada kami ikut Indonesia yang jelas-jelas sudah dibekukan oleh anak bangsa sendiri,” ujarnya.
“Jadi kami sangat berharap Menpora segera mencabut keputusan pembekuan itu. Ayolah dahulukan kepentingan bangsa dan negara, jangan sepak bola malah menjadi korban ‘keganasan’ kekuasaan ini.”
Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan Menpora?. Seharusnya hal ini bisa dibicarakan baik-baik, seperti niat baik PSSI yang melakukan kunjungan kemarin. Tetapi apa yang didapat, Menpora mendadak diberitahui tidak ada ditempat.





